Sabtu, 06 September 2008

Tong Sampah

> Seorang pria tua yang bijak memutuskan untuk pensiun
> dan membeli rumah
> mungil dekat sebuah SMP. Selama beberapa minggu ia
> menikmati masa-masa
> pensiunnya dengan tenang dan damai. Kebetulan saat
> itu sedang masa
> liburan sekolah.
>
> Tak berapa lama kemudian, masa sekolah tiba. Dan,
> sekolah itu pun
> penuh dengan anak-anak. Suasana tenang dan nyaman
> menjadi sedikit
> berubah. Namun yang paling menjengkelkan pak Tua
> adalah, setiap hari
> ada tiga anak laki-laki lewat di depan rumah yang
> suka memukuli tong
> sampah yang ada di pinggir jalan. Mereka membikin
> keributan sepanjang
> hari dan berulah seolah-olah menjadi pemain perkusi
> hebat. Begitu
> terus dari hari ke hari. Sampai akhirnya pak Tua
> merasa harus
> melakukan sesuatu pada mereka. Keesokan harinya, pak
> Tua keluar rumah
> sambil tersenyum lebar menghampiri tiga anak
> laki-laki yang sedang
> asyik memukuli tong sampah. Ia menghentikan
> permainan mereka, dan
> berkata, "Hai, anak-anak! Kalian pasti suka
> bersenang-senang. Saya
> suka sekali dengan cara kalian bersenang-senang
> seperti ini. Sewaktu
> saya masih kecil, saya juga suka bermain-main
> seperti kalian. Na h,
> apakah kalian mau saya beri uang?"
>
> "Mau.. mau.." sahut ketiga anak itu serempak.
>
> "Okay, begini," pak Tua itu tersenyum. Lalu ia
> mengeluarkan tiga
> lembar uang ribuan dari sakunya. Katanya,
> "Masing-masing dari kalian
> saya beri uang seribu. Tapi kalian harus berjanji
> mau bermain-main di
> sini dan memukuli tong sampah ini setiap hari."
> Anak-anak itu
> senangnya luar biasa. Sejak itu setiap hari mereka
> "bekerja" memukuli
> tong sampah itu dengan penuh semangat.
>
> Beberapa hari kemudian, Pak Tua itu menghampiri dan
> menyambut
> "pekerjaan" mereka dengan penuh senyum. Namun kali
> ini senyumnya
> tampak agak sedih. Katanya, "Nak, kalian tahu khan
> situasi krisis
> akhir-akhir ini membuat uang pensiun saya tak cukup
> untuk memenuhi
> kebutuhan sehari-hari." Ia menarik nafas
> dalam-dalam. Anak-anak itu
> menunggu apa yang diucapkannya. Lanjut Pak Tua.
> "Mulai hari ini saya
> hanya bisa membayar kalian lima ratus saja untuk
> tugas kalian memukuli
> tong sampah ini."
>
> Anak-anak itu tampak kecewa dengan keputusan Pak
> Tua, namun mereka
> masih bisa menerimanya. Lalu mereka melanjutkan
> tugas mereka membuat
> keributan sepanjang hari.
>
> Beberapa hari kemudian, pak Tua itu dengan wajah
> memelas mendekati
> anak-anak yang sedang memukuli tong sampah. Katanya,
> "Maaf, bulan ini
> saya belum menerima kiriman uang pensiun. Saya hanya
> bisa memberi
> kalian bertiga seribu Rupiah saja.
>
> " Apa..? Seribu untuk bertiga?," protes pemimpin
> pemain
>
> tong sampah itu. "Apa pak Tua kira kami ini mau
> menghabiskan waktu
> kami di sini hanya untuk uang segitu? Ah, yang benar
> saja! Pak Tua ini
> tidak masuk akal. Mulai hari ini kami tidak mau lagi
> melakukan tugas
> ini lagi. Kami keluar."
>
> Ketiga anak lelaki itu pergi meninggalkan pak Tua
> itu dengan
> bersungut-sungut. Dan, sejak hari itu pak Tua
> menikmati ketenangan
> hingga akhir hayatnya.
>
> Begitulah bila kita mencampur-adukkan kegembiraan
> hati dengan "uang
> gaji". Seringkali kita kehilangan keceriaan hanya
> karena kita
> menganggap "keceriaan" itu adalah sebuah pekerjaan
> yang dibayar, maka
> bila "bayarannya" berkurang maka kesenangan pun jadi
> berkurang.
>
> Jangan sampai kegembiraan anda menghilang di balik
> beberapa lembar
> uang gajian belaka.

Tidak ada komentar: